Kebiasaan ingin segalanya sempurna sering terlihat sebagai hal yang positif. Seseorang ingin pekerjaannya rapi, minim kesalahan, dan sesuai harapan. Karena itu, mereka rela memeriksa hasil kerja berkali-kali sebelum menyelesaikannya.
Namun, keinginan tersebut juga bisa membuat pekerjaan semakin lama. Terlalu fokus pada detail, takut melakukan kesalahan, dan terus mencari kekurangan membuat seseorang sulit bergerak maju.
Padahal, banyak pekerjaan membutuhkan proses. Kita bisa mulai dari versi sederhana, lalu memperbaikinya setelah melihat hasil awal.
Lantas, mengapa keinginan untuk sempurna justru sering membuat pekerjaan tertunda?
Terlalu Lama Memikirkan Hasil Akhir
Orang yang ingin semuanya sempurna biasanya langsung memikirkan hasil akhir sebelum mulai bekerja. Mereka membayangkan berbagai kemungkinan kesalahan dan mencari cara untuk menghindarinya.
Akibatnya, waktu berjalan tanpa banyak kemajuan.
Contohnya terlihat saat seseorang mendapat tugas menulis. Ia mungkin menghabiskan waktu untuk mencari judul yang paling tepat, memilih kata, menyusun paragraf, atau memikirkan komentar pembaca.
Padahal, ia belum menyelesaikan satu draf pun.
Cara seperti ini membuat pekerjaan terasa lebih berat daripada kondisi sebenarnya. Semakin banyak hal yang dipikirkan sebelum mulai, semakin sulit seseorang mengambil langkah pertama.
Takut Salah Membuat Kita Sulit Memulai
Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Namun, orang yang mengejar kesempurnaan sering melihat kesalahan sebagai sesuatu yang harus dihindari.
Akibatnya, mereka menunggu sampai merasa benar-benar siap.
Masalahnya, kita tidak selalu merasa siap. Ide bisa terus berubah, kondisi bisa berubah, dan waktu terus berjalan.
Misalnya, seseorang ingin membuat presentasi untuk pekerjaan. Ia sudah memiliki bahan utama, tetapi terus mencari referensi tambahan karena takut ada informasi yang kurang.
Akhirnya, ia baru mulai membuat slide ketika waktu sudah semakin sempit.
Daripada menunggu kondisi ideal, lebih baik mulai dengan informasi yang sudah tersedia. Setelah itu, kita bisa menambahkan hal penting yang masih kurang.
Terlalu Sering Mengubah Hal Kecil
Kebiasaan mengejar kesempurnaan juga sering muncul ketika seseorang terus memperbaiki detail kecil.
Memeriksa pekerjaan tentu penting. Namun, kita perlu membedakan antara memperbaiki kesalahan dan mengubah sesuatu yang sebenarnya sudah cukup baik.
Misalnya, seseorang sudah menyelesaikan sebuah tulisan. Informasinya sudah lengkap dan susunannya sudah jelas. Namun, ia terus mengganti satu kata, mengubah posisi kalimat, lalu kembali membaca paragraf pertama.
Perubahan kecil terus bermunculan.
Jika kebiasaan ini berlangsung lama, pekerjaan sederhana bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Standar Tinggi Bisa Membuat Tugas Terasa Berat
Standar yang tinggi tidak selalu menjadi masalah. Kita justru membutuhkan standar tertentu agar hasil kerja tetap berkualitas.
Masalah muncul ketika standar tersebut terlalu jauh dari kebutuhan tugas.
Bayangkan seseorang mendapat tugas membuat presentasi selama sepuluh menit. Ia merasa presentasi itu harus memiliki desain menarik, animasi lengkap, data terbaru, dan tampilan yang sempurna.
Tugas sederhana pun terasa seperti proyek besar.
Padahal, ia bisa membuat struktur presentasi terlebih dahulu. Setelah seluruh bagian selesai, barulah ia memperbaiki tampilan dan menambahkan detail yang benar-benar diperlukan.
Sulit Menentukan Kapan Harus Berhenti
Orang yang mengejar kesempurnaan sering kesulitan menentukan batas akhir pekerjaannya.
Setelah satu bagian selesai, mereka menemukan hal lain yang ingin diperbaiki. Setelah memperbaiki bagian tersebut, muncul lagi detail berikutnya.
Siklus ini bisa berlangsung terus-menerus.
Pada akhirnya, bukan kualitas yang menjadi masalah, melainkan tidak adanya batas yang jelas.
Karena itu, sebelum mulai mengerjakan sesuatu, tentukan standar yang memang dibutuhkan. Setelah hasil memenuhi standar tersebut, lanjutkan ke tugas berikutnya.
Hasil Berkualitas Tidak Harus Sempurna
Kualitas dan kesempurnaan bukan hal yang sama.
Hasil berkualitas memenuhi kebutuhan, menyampaikan tujuan dengan jelas, dan tidak memiliki kesalahan penting. Sementara itu, kesempurnaan sering membuat seseorang terus mencari kekurangan meskipun hasilnya sudah layak.
Perbedaan ini penting dalam kehidupan sehari-hari.
Sebuah email kerja, misalnya, tidak perlu memakai kalimat yang sempurna selama isinya jelas dan sopan. Begitu juga dengan catatan pribadi. Kita tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk memperbaiki hal kecil yang tidak memengaruhi tujuan utama.
Dengan memahami batas tersebut, kita bisa menjaga kualitas tanpa menghabiskan terlalu banyak waktu.
Mulai dari Versi Pertama
Salah satu cara sederhana untuk mengurangi kebiasaan mengejar kesempurnaan adalah membuat versi pertama terlebih dahulu.
Jangan menuntut hasil awal langsung bagus.
Setelah itu, lihat bagian mana yang memang membutuhkan perbaikan.
Cara ini membuat proses kerja terasa lebih ringan. Kita juga bisa melihat kekurangan secara nyata daripada terus menebaknya sebelum pekerjaan dimulai.
Tentukan Batas Waktu
Batas waktu juga membantu kita berhenti mengutak-atik pekerjaan tanpa tujuan yang jelas.
Misalnya, seseorang memberi waktu satu jam untuk membuat sebuah tulisan. Ia bisa membagi waktunya menjadi beberapa tahap: membuat ide, menulis draf, lalu melakukan pemeriksaan akhir.
Ketika waktu habis, ia berhenti dan melihat apakah hasilnya sudah memenuhi kebutuhan.
Cara ini bukan berarti kita harus terburu-buru. Kita hanya perlu memberi batas agar perhatian tidak terus tersangkut pada detail kecil.
Tidak Semua Hal Harus Sempurna
Keinginan menghasilkan sesuatu dengan baik merupakan hal yang wajar. Namun, kita tidak perlu mengejar kesempurnaan dalam setiap pekerjaan.
Tugas penting mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih teliti. Sebaliknya, pekerjaan sederhana tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang.
Kita bisa menentukan prioritas berdasarkan tujuan dan tingkat kepentingan tugas.
Pada akhirnya, menyelesaikan pekerjaan juga menjadi bagian dari produktivitas. Hasil yang baik tidak hanya berasal dari perhatian terhadap detail, tetapi juga dari kemampuan mengetahui kapan harus memperbaiki dan kapan harus berhenti.
Baca juga: Transformasi Gaya Hidup Menuju Versi Terbaik Dirimu
