Makanan beku menjadi pilihan praktis bagi banyak orang karena membantu menyimpan bahan makanan lebih lama. Daging, ikan, sayuran, hingga buah bisa bertahan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan di dalam freezer jika disimpan dengan benar.
Namun, pembekuan bukan sekadar membuat makanan menjadi dingin. Suhu rendah memperlambat aktivitas mikroorganisme dan reaksi kimia yang dapat merusak kualitas makanan. Proses ini juga memengaruhi tekstur, rasa, serta kandungan air dalam bahan makanan.
Lantas, mengapa makanan beku bisa bertahan lebih lama? Apakah semua bahan makanan cocok disimpan di freezer?
Bagaimana Suhu Dingin Memperlambat Kerusakan Makanan?
Makanan segar mengandung air dan nutrisi yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme, seperti bakteri, khamir, dan kapang. Mikroorganisme tersebut dapat berkembang biak ketika kondisi lingkungan mendukung, sehingga makanan mengalami perubahan aroma, rasa, warna, atau tekstur.
Pembekuan memperlambat proses tersebut secara signifikan. Pada suhu freezer sekitar minus 18 derajat Celsius, sebagian besar air dalam makanan berubah menjadi es. Kondisi ini mengurangi jumlah air yang tersedia bagi mikroorganisme untuk menjalankan aktivitasnya.
Suhu rendah juga memperlambat berbagai reaksi kimia dan aktivitas enzim yang dapat menurunkan kualitas makanan. Karena itu, daging atau ikan beku dapat mempertahankan kualitasnya lebih lama daripada bahan yang hanya disimpan di lemari pendingin.
Meski demikian, pembekuan tidak selalu membunuh seluruh mikroorganisme. Sebagian bakteri dapat bertahan dalam kondisi beku, lalu kembali aktif ketika makanan mencair dan suhunya meningkat.
Itulah sebabnya kamu tetap perlu menangani makanan beku secara higienis dan memasaknya hingga mencapai tingkat kematangan yang aman.
Mengapa Tekstur Makanan Bisa Berubah Setelah Dibekukan?
Saat makanan membeku, air di dalam jaringan membentuk kristal es. Ukuran kristal tersebut memengaruhi kondisi sel dan tekstur bahan setelah pencairan.
Pembekuan yang berlangsung lambat cenderung membentuk kristal es lebih besar. Kristal ini dapat merusak struktur sel, terutama pada bahan yang memiliki kandungan air tinggi. Akibatnya, makanan bisa mengeluarkan lebih banyak cairan setelah mencair.
Sebaliknya, pembekuan yang lebih cepat umumnya menghasilkan kristal es yang lebih kecil sehingga kerusakan struktur jaringan dapat berkurang.
Perubahan ini mudah terlihat pada buah stroberi, semangka, atau tomat. Setelah dicairkan, teksturnya mungkin terasa lebih lembek daripada saat masih segar. Meski begitu, bahan tersebut tetap cocok untuk smoothie, saus, sup, atau olahan lain yang tidak membutuhkan tekstur renyah.
Daging dan ikan juga dapat mengalami perubahan tekstur jika pembekuan serta pencairannya tidak tepat. Karena itu, cara menyimpan dan mencairkan makanan ikut menentukan kualitas akhirnya.
Apakah Kandungan Gizi Makanan Beku Berkurang?
Pembekuan umumnya membantu mempertahankan banyak zat gizi dalam makanan. Suhu rendah memperlambat proses yang dapat merusak vitamin dan komponen tertentu, sehingga bahan makanan beku tetap dapat menjadi pilihan bergizi.
Namun, hasilnya bergantung pada jenis makanan dan cara pengolahannya. Sayuran beku komersial sering melalui proses blansir, yaitu pemanasan singkat sebelum pembekuan. Tahap ini membantu menonaktifkan enzim yang dapat menurunkan kualitas sayuran selama penyimpanan.
Di sisi lain, pemanasan tersebut dapat mengurangi sebagian vitamin yang sensitif terhadap panas atau larut dalam air, seperti vitamin C dan beberapa vitamin B.
Sayuran segar pun bisa kehilangan sebagian zat gizinya selama pengangkutan dan penyimpanan. Karena itu, sayuran beku yang diproses tidak lama setelah panen terkadang dapat mempertahankan zat gizi dengan baik.
Yang terpenting, perhatikan bahan tambahan dalam produk beku. Buah beku tanpa gula tambahan dan sayuran beku tanpa banyak garam biasanya lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan menu sehari-hari.
Berapa Lama Makanan Bisa Disimpan di Freezer?
Lama penyimpanan makanan beku bergantung pada jenis bahan, kondisi awal, kemasan, dan kestabilan suhu freezer. Suhu sekitar minus 18 derajat Celsius atau lebih rendah membantu menjaga keamanan makanan selama penyimpanan berkelanjutan.
Namun, keamanan dan kualitas merupakan dua hal berbeda. Makanan yang terus tersimpan pada suhu beku yang tepat dapat tetap aman dalam waktu lama, tetapi rasa dan teksturnya bisa menurun seiring waktu.
Daging berlemak, misalnya, dapat mengalami oksidasi yang memengaruhi aroma. Sementara itu, makanan yang tidak tertutup rapat bisa mengalami freezer burn, yaitu kondisi ketika permukaannya mengering akibat paparan udara dingin.
Untuk menjaga kualitas, simpan makanan dalam kemasan kedap udara dan beri label tanggal penyimpanan. Kamu juga bisa membagi bahan makanan menjadi beberapa porsi sebelum membekukannya agar lebih praktis saat digunakan.
Hindari memasukkan makanan panas dalam jumlah besar langsung ke freezer karena tindakan tersebut dapat menaikkan suhu di dalamnya dan memengaruhi bahan makanan lain.
Apa Itu Freezer Burn dan Apakah Berbahaya?
Freezer burn terjadi ketika permukaan makanan kehilangan kelembapan selama penyimpanan beku. Kondisi ini sering muncul pada daging atau ikan yang kemasannya tidak rapat.
Tandanya bisa berupa bercak kering berwarna pucat, perubahan tekstur, atau rasa yang kurang enak setelah makanan dimasak. Paparan udara dan perubahan suhu selama penyimpanan dapat meningkatkan risiko kondisi tersebut.
Freezer burn sendiri tidak otomatis membuat makanan menjadi tidak aman. Namun, bagian yang terdampak bisa memiliki kualitas yang menurun.
Untuk mencegahnya, keluarkan udara berlebih dari kemasan, gunakan wadah yang sesuai untuk freezer, dan tutup makanan dengan rapat. Usahakan juga menjaga suhu freezer tetap stabil serta tidak terlalu sering membuka pintunya dalam waktu lama.
Cara Mencairkan Makanan Beku dengan Aman
Cara mencairkan makanan juga penting untuk menjaga keamanan dan kualitasnya. Jangan membiarkan daging, ikan, atau makanan mudah rusak berada pada suhu ruang selama berjam-jam karena bagian luarnya dapat menghangat ketika bagian tengah masih beku.
Ada beberapa cara yang lebih aman untuk mencairkan makanan:
- Di lemari pendingin: pindahkan makanan dari freezer ke bagian kulkas yang bersuhu dingin dan biarkan mencair secara bertahap.
- Menggunakan air dingin: masukkan makanan ke dalam kemasan yang tidak bocor, lalu rendam dalam air dingin. Ganti air secara berkala.
- Menggunakan microwave: pilih fungsi pencairan dan segera masak makanan setelah proses selesai jika metode tersebut membuat sebagian bagiannya mulai menghangat.
Hindari mencairkan makanan di atas meja dapur dalam waktu lama. Jika kamu sudah mencairkan makanan dengan aman, segera olah sesuai kebutuhan dan ikuti panduan penyimpanan untuk jenis makanan tersebut.
Tidak Semua Makanan Cocok Dibekukan
Freezer dapat membantu memperpanjang masa simpan banyak bahan makanan, tetapi beberapa produk mengalami perubahan tekstur yang cukup besar.
Selada, mentimun, dan sayuran berair lainnya bisa kehilangan kerenyahan setelah mencair. Produk berbahan dasar krim tertentu juga dapat mengalami pemisahan cairan atau perubahan tekstur.
Sayuran yang menjadi lebih lunak, misalnya, tetap cocok untuk sup atau masakan berkuah.
Cara penyimpanan yang tepat bukan hanya membantu mengurangi pemborosan makanan, tetapi juga menjaga kualitas bahan hingga waktu memasak tiba.
Baca juga: Mengapa Makanan Panggang Memiliki Aroma yang Menggugah Selera?
